Di tengah perkembangan dunia yang semakin terhubung dan modern, kawasan perbatasan sering kali hanya dipandang sebagai wilayah administratif yang memisahkan dua negara. Namun, di balik batas geografis tersebut, tersimpan berbagai cerita mengenai budaya, spiritualitas, dan kekayaan alam yang justru membentuk identitas suatu daerah. Kabupaten Belu di Nusa Tenggara Timur menjadi salah satu contoh bagaimana wilayah perbatasan tidak hanya berfungsi sebagai gerbang negara, tetapi juga menghadirkan ruang perjumpaan antara sejarah, wisata rohani, dan keindahan alam khas timur Indonesia. Salah satu ikon yang kini banyak menarik perhatian wisatawan dan peziarah adalah yang berada di kawasan Teluk Gurita, Desa Dualaus, Kecamatan Kakuluk Mesak. Patung ini berdiri megah di atas bukit yang langsung menghadap laut, menciptakan perpaduan antara nuansa religius dan panorama alam yang sangat menenangkan. Menurut RRI Kupang, patung ini menjadi salah satu ikon wisata religi di Kabupaten Belu dan banyak d...
Untuk pertama kalinya, badan antriksa AS (NASA) sukses menguji pengiriman data melalui sambungan Internet khusus yang didesain untuk komunikasi ruang angkasa. Dalam uji coba tersebut dikirimkan foto yang dipotret sebuah wahana ruang angkasa yang sedang mengarungi antariksa pada jarak 32 juta kilometer dari Bumi.
"Ini merupakan langkah awal untuk membangun kapasitas baru komunikasi ruang angkasa, sebuah Internet antarplanet," ujar Adrian Hooke, ketua tim peneliti yang bermarkas di Washington DC, AS.
Jaringan Internet antarplanet ini dikembangkan bersama antara NASA dan Vint Cerf, wakil presiden Google yang dikenal pula sebagai "bapak Internet." Selama 10 tahun terakhir, Cerf membantu pengembangan protokol software yang digunakan untuk transmisi data di ruang angkasa yang disebut DTN (Disrupt-Tolerant Networking).
DTN mengirimkan informasi menggunakan
metode yang berbeda dengan TCP/IP (Transmission Control Protocol/Internet Protocol), yang juga dikembangkan Cerf bersama koleganya. Protokol tersebut harus mampu menangani delay yang cukup lama, gangguan sinyal, dan mempertahanakn koneksi sehingga data yang dikirimkan tetap utuh.
Gangguan bisa datang dari badai Matahari atau saat wahana ruang angkasa bergerak ke belakang objek yang diamati. Jarak yang sangat jauh juga menjadi tantangan tersendiri seperti proses pengiriman data dari Mars yang membutuhkan delay antara 4-20 menit meski dikirim dengan kecepatan cahaya.
Jika pengiriman terpaksa berhenti di tengah jalan, setiap simpul jaringan akan menyimpan informasi tersebut dan kembali menersukannya jika sambungan normal. Hal ini berbeda dengan jaringan Internet di Bumi yang langsung mengabaikan data yang dikirimkan begitu sambungan terputus.
"Dalam dunia ruang angkasa saat ini, tim operasi harus secara manual mengatur jadwal setiap link komunikasi yang dipakai, data yang akan dikirim, dan tujuannya," ujar Leigh Togerson, manajer DTN Experiment Operation di Laboratorium Propulsi Jet NASA di Pasadena, AS.
Dengan DTN, hal tersebut tidak perlu dilakukan. Data akan terkirim secara otomatis sehingga lebih efisien. Uji coba pengiriman data melalui DTN dilakukan dari wahana ruang angkasa bernama Deep Impact yang tengah memburu Komet Hartley 2 setelah sukses mendekati Komet Tempel tiga tahun lalu.
[http://www.kompas.com/read/xml/2008/11/20/23184893/protokol.internet.antarplanet.lebih.canggih.]
"Ini merupakan langkah awal untuk membangun kapasitas baru komunikasi ruang angkasa, sebuah Internet antarplanet," ujar Adrian Hooke, ketua tim peneliti yang bermarkas di Washington DC, AS.
Jaringan Internet antarplanet ini dikembangkan bersama antara NASA dan Vint Cerf, wakil presiden Google yang dikenal pula sebagai "bapak Internet." Selama 10 tahun terakhir, Cerf membantu pengembangan protokol software yang digunakan untuk transmisi data di ruang angkasa yang disebut DTN (Disrupt-Tolerant Networking).
DTN mengirimkan informasi menggunakan
metode yang berbeda dengan TCP/IP (Transmission Control Protocol/Internet Protocol), yang juga dikembangkan Cerf bersama koleganya. Protokol tersebut harus mampu menangani delay yang cukup lama, gangguan sinyal, dan mempertahanakn koneksi sehingga data yang dikirimkan tetap utuh.
Gangguan bisa datang dari badai Matahari atau saat wahana ruang angkasa bergerak ke belakang objek yang diamati. Jarak yang sangat jauh juga menjadi tantangan tersendiri seperti proses pengiriman data dari Mars yang membutuhkan delay antara 4-20 menit meski dikirim dengan kecepatan cahaya.
Jika pengiriman terpaksa berhenti di tengah jalan, setiap simpul jaringan akan menyimpan informasi tersebut dan kembali menersukannya jika sambungan normal. Hal ini berbeda dengan jaringan Internet di Bumi yang langsung mengabaikan data yang dikirimkan begitu sambungan terputus.
"Dalam dunia ruang angkasa saat ini, tim operasi harus secara manual mengatur jadwal setiap link komunikasi yang dipakai, data yang akan dikirim, dan tujuannya," ujar Leigh Togerson, manajer DTN Experiment Operation di Laboratorium Propulsi Jet NASA di Pasadena, AS.
Dengan DTN, hal tersebut tidak perlu dilakukan. Data akan terkirim secara otomatis sehingga lebih efisien. Uji coba pengiriman data melalui DTN dilakukan dari wahana ruang angkasa bernama Deep Impact yang tengah memburu Komet Hartley 2 setelah sukses mendekati Komet Tempel tiga tahun lalu.
[http://www.kompas.com/read/xml/2008/11/20/23184893/protokol.internet.antarplanet.lebih.canggih.]
Comments
Post a Comment