Di tengah perkembangan dunia yang semakin terhubung dan modern, kawasan perbatasan sering kali hanya dipandang sebagai wilayah administratif yang memisahkan dua negara. Namun, di balik batas geografis tersebut, tersimpan berbagai cerita mengenai budaya, spiritualitas, dan kekayaan alam yang justru membentuk identitas suatu daerah. Kabupaten Belu di Nusa Tenggara Timur menjadi salah satu contoh bagaimana wilayah perbatasan tidak hanya berfungsi sebagai gerbang negara, tetapi juga menghadirkan ruang perjumpaan antara sejarah, wisata rohani, dan keindahan alam khas timur Indonesia.
Salah satu ikon yang kini banyak menarik perhatian wisatawan dan peziarah adalah yang berada di kawasan Teluk Gurita, Desa Dualaus, Kecamatan Kakuluk Mesak. Patung ini berdiri megah di atas bukit yang langsung menghadap laut, menciptakan perpaduan antara nuansa religius dan panorama alam yang sangat menenangkan.
Menurut RRI Kupang, patung ini menjadi salah satu ikon wisata religi di Kabupaten Belu dan banyak dikunjungi masyarakat dari berbagai daerah di Nusa Tenggara Timur maupun dari Timor Leste (RRI Kupang, 2024). Kawasan ini tidak hanya digunakan sebagai tempat doa dan ziarah umat Katolik, tetapi juga berkembang sebagai destinasi wisata rohani yang menawarkan pengalaman reflektif bagi pengunjung.
Keberadaan patung ini memiliki makna yang cukup mendalam bagi masyarakat Belu. Selain menjadi simbol iman, tempat ini juga menunjukkan bagaimana ruang spiritual dapat berkembang menjadi pusat aktivitas sosial dan wisata daerah. Tourism Information Center NTT menjelaskan bahwa Patung Bunda Maria Segala Bangsa memiliki tinggi lebih dari 30 meter dan menjadi salah satu landmark religi terbesar di wilayah Pulau Timor (Tourism Information Center NTT, 2025).
Dari atas kawasan patung, pengunjung dapat menyaksikan hamparan laut biru, perbukitan hijau, dan garis pantai yang membentuk panorama khas wilayah timur Indonesia. Saat matahari mulai terbenam, suasana di Teluk Gurita berubah menjadi sangat tenang dan dramatis. Tidak berlebihan jika banyak orang menyebut tempat ini sebagai lokasi terbaik untuk menikmati perpaduan antara wisata rohani dan wisata alam.
Kabupaten Belu sendiri merupakan wilayah yang memiliki posisi strategis sebagai daerah perbatasan Indonesia dengan Timor Leste. Secara historis, kawasan ini memiliki hubungan budaya yang sangat kuat dengan masyarakat Timor. Menurut iNews Belu, nama “Belu” berasal dari bahasa Tetun yang berarti sahabat atau sekutu, mencerminkan hubungan sosial masyarakat di kawasan tersebut sejak masa kerajaan adat di Pulau Timor (iNews Belu, 2025).
Perjalanan menuju Patung Bunda Maria juga menghadirkan pengalaman unik karena wisatawan akan melewati jalur melewati Pos Lintas Batas Negara yang menjadi pintu utama Indonesia menuju Timor Leste. Kehadiran PLBN Motaain membuat Belu memiliki suasana khas kawasan perbatasan yang berbeda dengan daerah lain di Indonesia.
Gerbang perbatasan yang megah, aktivitas masyarakat lintas negara, hingga penggunaan bahasa Tetun dalam kehidupan sehari-hari memperlihatkan bagaimana identitas budaya di kawasan ini tumbuh secara dinamis. Kawasan perbatasan bukan lagi sekadar wilayah pinggiran, melainkan ruang strategis yang mempertemukan budaya, ekonomi, dan hubungan sosial antarnegara.
Selain wisata religi, Belu juga memiliki sejumlah destinasi alam yang menarik untuk dikunjungi. Salah satunya adalah yang berada tidak terlalu jauh dari kawasan Teluk Gurita.
Kolam Susuk dikenal karena warna airnya yang tampak putih seperti susu akibat pantulan dasar tanah berwarna terang. Tempat ini dikelilingi kawasan mangrove dan memiliki cerita rakyat yang berkembang di masyarakat setempat. Artikel di Kompasiana menjelaskan bahwa Kolam Susuk menjadi salah satu destinasi wisata alam unik di Belu dan bahkan sering dikaitkan dengan inspirasi lagu legendaris “Kolam Susu” milik Koes Plus (Huda, 2025).
Selain Kolam Susuk, terdapat pula pantai Atapupu yang terkenal dengan hamparan pasir putih dan suasana pantai yang tenang.
Pantai ini menjadi salah satu tempat favorit masyarakat Atambua untuk menikmati sore bersama keluarga. Menurut Warta Timor, Pantai Atapupu dan Kolam Susuk merupakan dua destinasi wisata yang indah dan menarik di Kabupaten Belu karena menawarkan panorama alam pesisir yang masih alami (Warta Timor, 2024).
Pada akhirnya, perjalanan ke Belu bukan hanya tentang mengunjungi tempat wisata. Kawasan ini menghadirkan pengalaman yang lebih luas mengenai bagaimana wilayah perbatasan mampu menyimpan kekayaan spiritual, sejarah, budaya, dan alam secara bersamaan. Patung Bunda Maria di Teluk Gurita menjadi simbol bahwa di ujung timur Indonesia, masih terdapat ruang-ruang tenang yang mengajarkan manusia untuk berhenti sejenak, menikmati keindahan, dan merefleksikan perjalanan hidupnya.
Daftar Pustaka
Huda, H. (2025). Kolam Susuk Kabupaten Belu Nusa Tenggara Timur inspirasi lagu Kolam Susu Koes Plus. Kompasiana. https://www.kompasiana.com/hakimhuda/680d9af434777c69c5002b72/kolam-susuk-kabupaten-belu-nusa-tenggara-timur-inspirasi-lagu-kolam-susu-koes-pluslus
iNews Belu. (2025). Mengenal sejarah Kabupaten Belu, wilayah perbatasan RI–Timor Leste sejak zaman kerajaan. https://belu.inews.id/read/662575/mengenal-sejarah-kabupaten-belu-wilayah-perbatasan-ritimor-leste-sejak-zaman-kerajaan
RRI Kupang. (2024). Keanggunan Patung Bunda Maria di Teluk Gurita Belu. https://rri.co.id/kupang/wisata/843287/keanggunan-patung-bunda-maria-di-teluk-gurita-belu
Tourism Information Center NTT. (2025). Patung Bunda Maria Segala Bangsa Teluk Gurita. https://tourisminfo.nttprov.go.id
Warta Timor. (2024). Pantai Atapupu dan Kolam Susuk, dua destinasi wisata yang indah dan menarik di Kabupaten Belu. https://www.wartatimor.com/nusantara/93112415160/pantai-atapupu-dan-kolam-susuk-dua-destinasi-wisata-yang-indah-dan-menarik-di-kabupaten-belu








Comments
Post a Comment