Denpasar, 14 Mei 2026 - “Coba kita refleksikan lagi, apakah kehadiran kita membawa kebahagiaan atau malah membawa kesulitan bagi orang lain?”
Kalimat sederhana dari khotbah Romo tersebut menjadi bagian yang paling membekas ketika saya mengikuti Misa Hari Raya Kenaikan Yesus Kristus di Gereja Paroki Roh Kudus Katedral Denpasar. Sebuah pertanyaan reflektif yang terasa begitu relevan di tengah kehidupan modern yang sering kali membuat manusia terlalu sibuk menilai dirinya sendiri, namun lupa melihat bagaimana keberadaannya dirasakan oleh orang lain.
Sering kali kita merasa telah hidup dengan benar, menaati aturan, menjaga citra diri, bahkan merasa cukup baik di hadapan lingkungan sosial. Namun pada akhirnya, karakter seseorang tidak hanya diukur dari bagaimana ia memandang dirinya sendiri, melainkan dari bagaimana orang lain merasakan dampak kehadirannya. Apakah kita menjadi sumber ketenangan, pengharapan, dan sukacita? Ataukah tanpa sadar justru menjadi sumber tekanan, luka, dan kesulitan bagi sesama?
Refleksi inilah yang membuat perayaan Kenaikan Yesus Kristus tahun ini terasa lebih mendalam. Bahwa iman bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan bagaimana nilai-nilai kasih itu hidup dalam tindakan sehari-hari.
Misa di Katedral Roh Kudus Denpasar berlangsung dengan suasana yang sangat khusyuk. Lingkungan sekitar gereja pada sore itu relatif tenang sehingga suara kendaraan dari luar tidak terlalu terdengar masuk ke dalam area ibadah. Kondisi tersebut membuat umat dapat mengikuti perayaan Ekaristi dengan lebih fokus dan penuh penghayatan. Ditambah lagi, fasilitas gereja seperti tata suara (sound system) dan pendingin ruangan yang sangat baik turut menghadirkan kenyamanan selama misa berlangsung.
Sekilas tentang Katedral Roh Kudus Denpasar
Gereja Paroki Roh Kudus Katedral Denpasar merupakan gereja katedral utama dari Keuskupan Denpasar yang berlokasi di Jalan Tukad Musi No. 1, Renon, Denpasar, Bali. Gereja ini menjadi pusat pelayanan umat Katolik di wilayah Denpasar dan sekitarnya.
Secara historis, pembangunan gereja ini telah direncanakan sejak masa kepemimpinan Mgr. Paulus Sani Kleden, SVD, kemudian dilanjutkan oleh beberapa uskup berikutnya hingga akhirnya peletakan batu pertama dilakukan pada 15 Agustus 1993. Bangunan gereja mulai digunakan untuk Perayaan Ekaristi sejak tahun 1998 dan secara resmi ditahbiskan pada 4 Juni 2017 oleh Mgr. Dr. Silvester Tung Kiem San, Pr.
Menariknya, Katedral Roh Kudus Denpasar juga dikenal karena mengusung nuansa arsitektur Bali yang sangat kental. Unsur budaya lokal dipadukan dengan identitas gereja Katolik secara harmonis, menciptakan simbol inkulturasi yang memperlihatkan bahwa iman dapat hadir tanpa harus meninggalkan akar budaya masyarakat setempat. Bahkan, banyak masyarakat di media sosial dan forum internasional mengagumi desain gereja ini karena berhasil menghadirkan perpaduan antara spiritualitas dan budaya Bali secara elegan.
Di tengah dinamika dunia yang semakin cepat, ruang-ruang refleksi seperti gereja menjadi sangat penting. Bukan hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga tempat manusia kembali mengingat makna hidup, memperbaiki relasi dengan Tuhan, dan mengevaluasi bagaimana dirinya hadir bagi sesama.
Hari Raya Kenaikan Yesus Kristus sendiri sejatinya bukan hanya tentang peristiwa Yesus naik ke surga, tetapi juga tentang harapan, pengutusan, dan panggilan untuk menghadirkan kasih dalam kehidupan sehari-hari. Bahwa setiap manusia dipanggil untuk menjadi terang, menghadirkan damai, dan membawa pengaruh baik di mana pun berada.
Mungkin pada akhirnya, ukuran keberhasilan hidup bukanlah seberapa tinggi pencapaian yang dimiliki, melainkan seberapa banyak hati yang merasa ditenangkan oleh kehadiran kita.
Selamat merayakan Hari Raya Kenaikan Yesus Kristus Tahun 2026. Semoga perayaan iman ini membawa damai, pengharapan, dan mengingatkan kita semua untuk terus menjadi pribadi yang menghadirkan kasih serta kebahagiaan bagi sesama.


Comments
Post a Comment